Cara Membuat Koteka

Koteka merupakan pakaian khas khusus pria beberapa suku di Papua. Alih-alih baju, koteka hanya digunakan untuk menutup kemaluan saja. Bentuknya pun unik dan beragam, dengan labu sebagai bahan dasar. Bagaimana cara membuatnya ya?

Tiap kali mendengar kata Papua, saya langsung teringat koteka. Pakaian khas pria yang digunakan untuk menutup kemaluan ini bentuknya sungguh unik. Di Kampung Obia tempat Suku Dani bermukim, saya belajar bagaimana cara membuatnya. Rupanya tidak terlalu sulit!

Masyarakat suku Dani menyebut koteka dengan sebutan holim. Suku yang tinggal di Lembah Baliem ini masih menggunakan holim dalam kehidupan sehari-hari, saat ritual-ritual yang berhubungan dengan adat istiadat atau peperangan.

Holim punya beragam bentuk. Ada yang lurus dan panjang, ada yang melengkung bagai ular, ada pula yang kerucut sempurna. Tapi siapa sangka, holim ini sejatinya terbuat dari buah labu yang telah melalui beberapa proses pengolahan dan pengeringan!

Pagi itu Lasarus, seorang pemuda suku Dani mengajarkan saya cara membuat holim. “Sekarang kau belajar bikin. Nanti kalau jadi, kau pakai sendiri sudah,” ujarnya kepada saya sembari berkelakar dan membuka kursus kilat membuat holim kami pagi ini.

Labu yang dijadikan holim adalah labu yang ditanam di atas Uma atau rumah honai perempuan. Honai  sendiri adalah rumah khas masyarakat Papua. Dalam tradisi masyarakat Dani, tiap Uma wajib memiliki tanaman labu. Tanaman ini akan menjalar hingga kadang memenuhi atap Uma yang menyerupai jamur.

Sebelum dipetik, labu terlebih dahulu dipilih. Tak ada kriteria khusus dalam memilih labu yang akan dijadikan holim, semua tergantung keinginan sang pemakai. Hari itu, Lasarus memetik sebuah labu yang menyerupai terompet dari atap sebuah Uma untuk saya.

Labu yang telah dipetik kemudian akan dipotong salah satu ujungnya. Bagian yang dipotong memudahkan untuk mengeruk isi dalam serta sebagai media untuk memasukkan alat kelamin ke dalam holim saat telah jadi nanti.

Uniknya, dalam menentukan seberapa banyak bagian ujung yang harus di potong, haruslah di sesuaikan dengan ‘ukuran’ penggunanya. Agar holim tidak kebesaran ataupun kekecilan. Menghaluskannya, kemudian mengajak saya ke Unila, dapurnya Suku Dani. Di dalam Unila, dia meletakkan labu tadi di atas bara api. Proses berikutnya dari pembuatan holim adalah memanaskannya.

Tujuan dari proses pemanasan ini untuk memudahkan dalam pengosongan dan membersihkan bagian dalam dari labu. Setelah selesai dibakar selama beberapa puluh menit, isi labu kemudian dikerok hingga bersih. Menyisakan bagian luar labu yang kemudian dijemur selama sehari, untuk membuatnya keras dan memberi warna coklat keemasan.

Bagi masyarakat Suku Dani, holim adalah kebanggaan serta unsur kegayaan. Tak jarang mereka menghiasi holim mereka dengan hiasan beranekaragam, mulai dari tali temali yang mereka buat dari kulit kayu hingga bulu-bulu burung kasuari.

Menggunakan holim pun tidaklah susah, sebuah tali diikatkan pada puncak dan badan holim untuk menjaganya tetap di tempat dan tidak mudah bergeser. Saat perlu dilepas, kita hanya perlu meregangkan tali yang menjaga tersebut.

Holim yang telah jadi mampu bertahan hingga berbulan-bulan lamanya sebelum perlu diganti lagi. Karena seluruh proses dan material dari holim berasal dari alam, pakaian ini pun ramah lingkungan.

Jalan-jalan ke Lembah Baliem menjadi kurang lengkap tanpa membawa pulang holim sebagai souvenir ataupun buah tangan. Bagi pria, mungkin akan tertarik untuk mencoba menggunakan holim secara langsung. Kapan lagi?

Sumber : http://travel.detik.com/read/2012/12/07/104200/2104447/1025/2/ini-dia-cara-membuat-koteka#menu_stop