Adat Pernikahan Suku Dani

Kepala Suku Dani, sekaligus anggota DPRD Mimika, Philipus Wakerwa kepada JPNN mengungkapkan, pribadi keras dan tegas yang menjadi ciri khas warga pribumi tidak terlepas dari pengaruh topografi alam dan pola hidup di daerah pedalaman.Akibatnya, saat berhadapan dengan perkembangan daerah yang cukup signifikan, mereka mengalami keterkejutan budaya (cultural shock). Karena itu, kuat kesan bahwa warga pedalaman Papua resistan dengan perubahan. Bahkan, sering mereka menyikapinya dengan emosional. Ada dua persoalan yang bisa memicu warga angkat panah. Balas dendam karena anggota keluarganya disakiti atau kasus perselingkuhan. Biasanya, perselingkuhan bisa di dalam kerabat atau dengan suku lain,” kata Philipus.Philipus mengatakan, sebagian besar warga pedalaman belum melek hukum. Hampir semua warga Dani di sini (Mimika, red) berasal dari daerah pedalaman, khususnya lembah Baliem (Kabupaten Jayawijaya). Jadi, ketika berhadapan dengan keharusan mengikuti hukum positif, sangat sulit,” ujarnya.
Mereka lebih taat kepada hukum adat daripada hukum nasional. ‘Yang lebih mendominasi pikiran mereka adalah aturan adat. Ini juga terbentuk karena hidup di pedalaman penuh tantangan. Bukan hanya alam yang keras, tuntutan mencari nafkah mengharuskan mereka berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun naik turun gunung dan lembah. Jangan heran apabila watak masyarakat pribumi keras dan tegas,” sambung Philipus.
Dia kemudian mencontohkan, kebiasaan yang sekarang ini masih terpelihara
pada suku Dani yang berkaitan dengan pernikahan. Biasanya, seorang pria yang ingin berkenalan dengan wanita harus membangun komunikasi dengan keluarga dekat wanita tersebut.

Jika tawaran itu diterima, perempuan bersangkutan melakukan apa yang disebut warga Dani bingga lakue atau bingga lakarak. Pada tahap ini, perempuan datang ke rumah laki-laki untuk memasak, lalu pergi. Tugas itu berlangsung lebih dari satu bulan. Apabila pihak perempuan merasa sudah waktunya mengetahui sikap orang tua pria, dilakukan upacara koeame wagarak atau perempuan datang untuk mendengar jawaban dari orang tua pria.

Jika perempuan tersebut rajin dan cocok untuk jadi istri anak laki-lakinya, selanjutnya pihak orang tua menyampaikan persetujuan.

Tahap ketiga jalinan itu adalah koejiqui atau koejikopopiwogi. Pada tahap ini, orang tua perempuan mengantar anaknya kepada orang tua laki-laki.

Biasanya, dilakukan acara potong babi dan diselenggarakan pesta adat. Sebelum diantar, orang tua perempuan merias sendiri anaknya, seperti mengenakan noken, kulit bia, dan berbagai perlengkapan adat lain.Setelah mengantar anaknya, orang tua perempuan pulang. Selanjutnya, orang tua laki-laki mendatangi orang tua perempuan untuk mendata semua jenis pengeluaran berkaitan dengan acara koejikopopiwogi, terutama biaya untuk periasan anak menantunya. Acara ini dalam bahasa setempat disebut koewupugi.
Setelah semua pengeluaran direkap, baru dilakukan pembayaran oleh pihak keluarga pria kepada keluarga perempuan. Kemudian jika telah selesai dilangsungkanlah sebuah pernikahan.

NW kemudian menuturkan penyebab perang dan akibat yang biasanya ditanggung. Pertama, bila anak gadis orang lain diambil tanpa sepengetahuan orang tua atau keluarga dekat anak gadis itu. Pada era 1990-an, soal seperti itu diselesaikan dengan membayar lima ekor babi. Tapi, kemudian, denda bisa dibayar dengan uang.

Kedua, bila istri berselingkuh dengan pria lain (meksipun si lelaki bagian keluarga). Penyelesaiannya didenda lima ekor babi. ”Setelah itu bisa akur kembali. Tapi, bila pihak laki-laki bersikeras, maka setelah dibuat denda adat, sang istri dicerai.”Ketiga, pencurian terhadap barang berharga seperti kulit kerang yang sering dipakai sebagai maskawin pihak laki-laki kepada pihak perempuan. Penyelesaiannya dibuat acara potong dua ekor babi, lalu barang berharga yang dicuri itu dikembalikan.

Sumber : http://zipoer7.wordpress.com/2009/09/29/pernikahan-adat-suku-dani-di-papua/